saat dingin malam menusuk tulang sendi… semuanya kaku, tak bisa bergerak sama sekali, andai aku bisa menjadi api, aku akan menghangatkan suasana ini, tapi sayang aku hanyalah angin, yang selalu diantara kedua-duanya…

saat dingin malam menusuk tulang sendi… semuanya kaku, tak bisa bergerak sama sekali, andai aku bisa menjadi api, aku akan menghangatkan suasana ini, tapi sayang aku hanyalah angin, yang selalu diantara kedua-duanya…
bila malam dingin menusuk tulang, hati tergetar dan semua menghilang, tapi satu hal yang selalu di hati, teman tak kan menghilang bersama mimpi tapi kan selalu ada dalam hari-hari
Saat melodi malam telah mulai berbunyi ku tutup ke dua mataku, Semuanya lebur hilang, bersama ruh ku yang melayang, Terbang menembus langit mimpi dalam khayal yang semu khayalan yang tak pasti
Saat sang mentari bersinar dengan penuh suka Tak ada tawa yang ku dengar dari dirimu wajahmu tak lagi bersinar.. aku merindukan senyum itu.. senyum yang selalu kau berikan untukku kehangatan dalam dekapan tak lagi aku rasakan Putih pucat wajahmu kini kaku tubuh dan tulangmu Aku baru tersadar… Kau mati…….
Kelam cahaya bulan Tak ada sinar dalam malam petang mencekam menusuk tulang Sepi hati menusuk kalbu Meremukkan semua angan Hancur lebur semua Ditelan malam kehancuran
Semilir udara yang menerpaku Gerimis mulai turun membasahi peluhku Aku bernyanyi dalam duka Hati yang remuk,telah membuatku kuat Kan ku abaikan semua….. Setidaknya, akan aku berikan Setitik senyum dalam duka